Minggu, 14 September 2008

MK HORTIKULTURA 1



Mata Kuliah : Hortikultura 1


SKS : 2 SKS


Prg. Studi : Agroteknologi


Semester : 5 (lima)


Pertemuan : I (15 September 2008)


Hari/jam : Senin, 10.00 - 11.40 WIB





I. PENDAHULUAN


“General Health and Happiness of the Family are Major Objectives and Results of a good Horticultural Program for the Home.”


A. Batasan dan Ruang Lingkup

Hortikultura merupakan suatu perkataan didalam bahasa Indonesia yang sama artinya dengan Horticulture ( Inggris ) atau Gartenbau ( Jerman ). Perkataan ini pada dasarnya merupakan penggabungan dua buah kata dalam bahasa Latin, Hortus dan Colore. Hortus mengartikan kata kebun ( Garden ), dan Colore mengartikan kata pengusahaaan ( to cultivate ). Dengan demikian perkataan Holtikultura dapat diartikan dengan : Pengusahaan Tanaman Kebun atau “ Culture of Garden Crops and Plants “.
Di abad pertengahan, hortikultura atau pengusahaan tanaman kebun, dibedakan dengan agrikultura atau pengusahaan di ladang. Namun pada waktu sekarang agrikultura atau pertanian telah berkembang dan meliputi secara luas teknologi pengusahaan tumbuhan dan hewan.
Pengusahaan tanaman-tanaman hortikultura dibanyak tempat telah berkembang dan tetap dikembangkan sebagai cabang usaha komersial, baik secara pribadi, perusahaan swasta ataupun perusahaan-perusahaan Negara .
Bidang ilmu hortikultura mempunyai hubungan secara langsung dengan banyak ilmu-ilmu pertanian lainnya, termasuk ilmu-ilmu dasar, ilmu-ilmu terapan sampai kepada teknologi yang menyangkut pengolahan dan prosesing hasil ( Annex 1 ).
Di dalam kehidupan sehari-hari secara sadar maupun tidak, manusia terlibat dengan bidang hortikultura. Hal ini disebabkan ruang lingkupnya yang meliputi pengusahaan jenis-jenis tanaman sayuran, buahan, dan berbagai tanaman hias sampai kepada elemen-elemen lain yang bukan tergolong organisme hidup.
Sebagai suatu bidang ilmu, hortikultura di Indonesia digolongkan kedalam bidang agronomi. Sedangkan di negara-negara yang telah berkembang seperti di Amerika Serikat dan Eropa, hortikultura berdiri sendiri sebagai suatu cabang ilmu terlepas dari agronomi, walaupun disatu pihak keduanya membicarakan tentang pengelolaan tanaman-tanaman pertanain ( Annex 2 ).
Hortikultura merupakan suatu applied-science, sama halnya dengan agronomi ataupun kehutanan. Beberapa pokok pikiran yang dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara pengusahaan holtikutura dengan agronomi dan kehutanan, antara lain :
1. Intensitas produksi ( Intensiveness of production )
2. Tujuan Penanaman ( Purpose for which a crop is grown )
3. Adat/Kebiasaan ( Custom )
4. Sifat hasil ( Shelf-life )


INTENSITAS PRODUKSI. Didalam mengusahakan jenis-jenis tanaman hortikultura, investasi modal dan tenaga kerja serta jumlah jam kerja persatuan luas tertentu, biasanya lebih besar dibandingkan dengan pengusahaan jenis-jenis tanaman agronomi atau kehutanan. Sebagai contoh : Untuk mengusahakan tanaman Tomat dan Kubis, investasi modal, penggunaan tenaga kerja serta jam kerja yang dibutuhkan sejak pembukaan tanah/persiapan lahan, pembibitan, dan penanaman, pemeliharaan sampai kepada panen dan prosesing hasil secara keseluruhan jauh lebih intensif jika dibandingkan dengan apa yang diberikan dalam mengusahakan jenis-jenis tanaman agronomi ( Padi, Jagung, Cengkih, Kelapa, dan sebagainya ). Contoh ini tentunya dimaksudkan kepada suatu luas areal yang sama. (bandingkan Tomat/Kubis/Petsai/Apel/ Jeruk, dengan Padi, Kelapa, Jagung, Coklat, Pala, dan Cengkih per satuan luas yang sama ).

TUJUAN PENANAMAN. Berdasarkan maksud, tujuan, dan manfaat yang diberikan, beberapa jenis tanaman agronomi ini ataupun kehutanan dapat digolongkan kedalam pengusahaan tanaman hortikultura. Beberapa contoh untuk menggambarkan hal ini, antara lain: (a) Pengusahaan tanaman pinus yang ditujukan untuk pulpnya/industri kertas atau korek api, digolongkan kedalam usaha kehutanan. Apabila penanaman pohon-pohon pinus tersebut ditujukan untuk pengisian ruang disekitar gedung sekolah, gereja, mesjid, rumah ataupun jalan-jalan raya, maka hal ini digolongkan didalam hortikultura. (b) Penanaman jenis-jenis rumput tertentu yang ditujukan untuk makanan ternak, digolongkan kedalam usaha agronomi. Apabila jenis-jenis rumput yang sama diusahakan/ditanam sebagai halaman rumput disekitar gedung gereja, mesjid, rumah, sekolah, ataupun tempat-tempat rekreasi, maka hal ini digolongkan kedalam hortikultura. (c) Beberapa jenis tanaman lainnya seperti Cengkeh, Kelapa Hibrida , Damar, Akasia, Pinang, dan sebagainya, apabila bertujuan untuk menghias ruang disamping bangunan ataupun sebagai jalur hijau dan mengandung manfaat menambah keindahan ( Aesthetic ), kesemuanya ini digolongkan kedalam bidang Hortikultura ( baca ruang lingkup hortikultura ).

ADAT/KEBIASAAN. Pandangan terhadap beberapa jenis tanaman tertentu ( Nenas, Kopi, Jagung, dan Jagung manis ) terkadang agak simpang siur, apakah tergolong jenis-jenis tanaman hortikultura atau agronomi. Hal ini berlaku untuk beberapa Negara Eropa, Amerika, dan Indonesia sendiri. Namun demikia sebagai patokan dapat digunakan criteria bagaimana tingkat intensitas produksi jenis-jenis tanaman tersebut diusahakan. Sebagai missal : di Indonesia pengussahaan kopi digolongkan kedalam bidang agronomi, sedangkan di Hawaii dikarenakan pengusahaannya yang dilakukan secara intensif, tanaman kopi dan pengusahaannya digolongkan kedalam hortikultura. Demikia halnya dengan Nenas, di Hawaii sebagai tanaman hortikultura, sedangkan untuk Indonesia dibanyak tempat diusahakan secara sambilan di sisi pertanian palawija di daerah perladangan. Suatu contoh lain yaitu pengusahaan Jagung, baik di Negara-negara Eropa/Amerika/Indonesia dan ditempat-tempat lainnya, digolonh[gkan kedalam usaha agronomi, sedangkan Jagun manis yang pengusahaannya dilakukan secara intensif di kebun-kebun sekitar rumah ataupun di daerah-daerah yang luas, digolongkan kedlam hortikultura.

SIFAT HASIL. Produksi tanaman-tanaman hortikultura pada umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar, bersifat mudah busuk serta memakan tempat. Hal ini menyebabkan produksi hortikultura tidak bias dijadikan barang pasaran timbunan, seperti halnya Padi, Kelapa , Coklat, dan Cengkih. Karena sifatnya yang mudah busuk, produksi hortikultura didalam prosesing dan pemasarannya menghendaki investasi modal yang cukup besar. Hal ini juga merupakan suatu pokok pikiran yang dapat menggambarkan perbedaan bidang hortikultura dengan agronomi. Oleh karena sifat aslinya mudah busuk, maka agar produk hortikultura dapat secara kontinyu beredar di pasaran, tentunya diperlukan teknologi yang dapat menjamin awetnya produk. Beberapa cara pengawetan yang telah dikembangkan untuk maksud tersebut, antara lain: (1) Penyimpanan/storing, (2) Pengalengan/canning, (3) Pengasinan/pickling, (4) Pengeringan/drying, (5) Pendinginan segera/quick freezing ( dibahas pada bab IV ).
Dari apa yang telah dikemukakan, jelas bahwa HORTIKULTURA merupakan pengusahaan tanaman kebun yang dilakukan secara intensif dengan produksi yang dikonsumsi dalam keadaan segar serta tidak merupakan barang pasaran timbunan karena sifat aslinya yang mudah busuk, disamping produksinya yang memak tempat.
Di Indonesia beberapa tanaman kebun yang diusahakan disamping rumah atau PEKARANGAN memiliki fungsi unik sbagai bahan rempah dan obat-obatan atau bahan baku untuk industri farmasi. ( lihat hal . . – bentuk pekarangan ).
Dari keseluruhan uraian diatas ini, lebih terperinci HORTIKULTURA dapatlah didenifisikan sebagai : Suatu cabang Agrikultura/ Pertanian yang diusahakan secara intensif dan yang digunakan manusia, segera untuk dimakan atau sebagai obat-obatan (bahan baku) industri farmasi maupun untuk memenuhi kebutuhan rohaniah dalam bentuk rasa keindahan (ESTETIKA = AESTHETIC ). Untuk itu perlu diperjelas batas dari bidang usaha dari hortikultura atau RUANG LINGKUP HORTIKULTURA (Devisions of Horticulture ). Pengusahaan jenis tanaman hortikultura mencangkup banyak tanaman yang pada prinsipnya digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian (Devisions) yaitu :
1. Pengusahaan Tanaman Sayuran (VEGETABLES)
2. Pengusahaan Tanaman Buahan (FRUITS), dan
3. Pengusahaan Tanaman Hias dan Arsitektura Pertanaman
(ORNAMENTAL HORTICULTURE & LANDSCHAPE ARCHITECTURE)

PENGUSAHAAN TANAMAN SAYURAN. Cabang ilmu yang secara khusus mendalami maslah sayuran dikenal dengan sebutan OLERICULTURE, sehingga orang yang mengkhususkan diri dan berkecimpung kemudian menjadi ahli bidang ini, disebut OLERICULTURIST.
Pada umunya yang dimaksudkan dengan “sayur”, yaitu bagian hasil yang bisa dimakan dari tanaman kebun yang herbaseus/Herbaceous Garden Plants. Sebagai contoh: Jenis-jenis cerelia tidak bisa dikatakan sayuran, walaupun jenis-jenis tersebut herbaseus, tetapi tidak merupakan produksi kebun (bandingkan “Garden Plants atau Crops” dengan “ Field Crops “ ).
Produksi beberapa jenis tanaman kebun, juga menghasilkan kesimpangsiuran/ kekacauan didalam pengelompokan tanaman sayuran atau buahan. Beberapa diantaranya adalah : Papaya (Carica papaya), Tomat (Lycopersicum esculentum), Nangka (Arthocarpus integra, dan lain-lain sebagainya. Hal ini adalah lumrah, karena produksi “papaya” dalam bentuk bunga/daun/buah muda, digunakan sebagai sayuran. Dilain pihak buah papaya masak, dikonsumsi sebagai buahan. Buah “Nangka” yang muda, digunakan/dijual/dimakan sebagai sayuran, dilain pihak produksi buah Tomat dari beberapa varietas tertentu biasanya juga dikonsumsikan sebagai buah meja atau “Deserts”, selain sebagai sayuran (Annex 3).
Kelompok tanaman sayuran terdiri dari berbagai type dan jenis. Untuk mengadakn pengelompokan yang lebih terperinci atas group-group, dapat digunakan beberapa criteria, antara lain : Berdasarkan Umur (a), Berdasarkan Bagian Tanaman yang Dikonsumsikan (b), Berdasarkan Daerah Penanaman (c), dan Berdasarkan Toleransi Terhadap Lama Penyinaran (d).


UMUR. Berdasarkan umur atau panjangnya siklus hidup (the length of life cycle), tanaman sayuran data dikelompokkan lagi menjadi : (1) Tanaman Sayuran Semusim (annual crops : tomat, kubis,terong,dan cabe), (2) Tanaman Sayuran dua Musim (biennial crops), dan (3) Perenial crops atau menahun.

BAGIAN TANAMAN. Berdasarkan bagian tanaman yang dikonsumsikan, tanaman sayuran dibagi antara lain: (1) Root Crops (wortel, lobak), (2) Bulb Crops (bawang), (3) Tuber Clops (kentang), (4) Stems (Asparagus), (5) Flower (Kubis kembang = Cauliflower), (6) Leaves (sawi, petsai, terong, selada), (7) Grains (kacang-kacangan), (8) Fruits (Eggplants = terong, tomat dan cabe).

DAERAH PENANAMAN. Berdasarkan daerah penanaman tanaman sayuran dapat dikelompokkan atas: (1) Tanaman dataran rendah(Bayam, Kangkung, Cabe Besar, dan Terong), dan (2) Tanaman dataran tinggi (Salada, Kubis, Wortel, Bawang daun, dan Bawang putih). Namun ada beberapa jenis sayuran yang dapat/mampu diusahakan pada kedua daerah ini antara lain : Tomat, Terong, Cabe rawit, Bayam, dan Kubis jenis hibrida.

TOLERANSI TERHADAP PENYINARAN. Berdasarkan toleransi dan kecocokan terhadap lamanya waktu penyinaran ata photoperiodism, tanaman sayuran dapat dibagi atas : (1) tanaman hari – pendek (short day plants ), (2) tanaman hari-panjang (long day plants), (3) tanaman yang netral (neutral day plants) (dijelaskan pada bab III). (Annex 4-5).

PENGUSAHAAN TANAMAN BUAHAN. Cabang Ilmu yang mempelajari dan mendalami secara khusus tentang tanaman buahan dikenal dengan sebutan POMOLOGY, dan orang yang berkecimpung dan mengkhususkan diri dalm bidang ini, disebut POMOLOGIST.
Pada dasarnya yang dimaksud dengan buah, yaitu hasil dari tanaman yang berupa daging dan bisa dimakan, dan yang dihasilkan oleh tanaman berkayu atau Woody plant serta yang berasal dari bunga.
Pertanaman buah-buahan dapat dikelompokkan lagi berdasarkan besar kecilnya buah (a), berkayu atau berbatang lunak (b), ataupun berdasarkan daerah penanamannya (c), maupun kesesuain terhadap iklim.
Mengenai secara besar-kecilnya buah yang dihasilkan oleh pohon buahan secara mudah dapat dimengerti. Pohon buahan yang menghasilkan buah dengan ukuran kecil antara lain : Anggur, jenis-jenis Berry, Klengkeng, Langsat, Duku, Rambutan. Yang menghasilkan ukuran buah sedang sampai besar, antara lain: Jeruk, Apel, Pear, Advokad, Lemon, Manggis, Papaya, Duren.
Berdasarkan sifat berkayu atau lunaknya batang, pohon buahan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
I. Fruits borne on woody plants
(Tanaman /pohon buahan berkayu)
A. Tree fruits
1. Decidious : Apel, Pear, Kedondong (gugur daun)
2. Evergreen : Jeruk, Lemon, Advokad, Manggis
(tidak gugur daun).
B. Small fruits.

II. Fruits borne on herbaceous parennial
A. Prostrate growth (merayap) : Strawberry dan Anggur.
B. Upright growth (bertumbuh tegak) : Pisang dan Nenas.

Beberapa pohon buahan menghendaki daerah dataran tinggi sebagai tempat pengusahaannya untuk dapat memproduksikan kwalitas dan kwantitas buah yang baik. Demikian pula terdapat pohon buahan yang menghendaki penanamannya di daerah dataran rendah. Dataran tinggi : Apel, Klengkeng, dan jeruk manis . Sedangkan untuk Dataran rendah : sesuai untuk banyak jenis pohon buahan.
Terdapat pohon buahan yang menghendaki iklim basah dengan muka air tanah yang tinggi, antara lain : Buah nona, sukun, Duren, Jambu air, Duku, dan Pisang ambon. Sebaliknya yang menghendaki ilim kering antara lain: Srikaya, Jambu mete, Jeruk siam, dan Mangga.
Perlu diketahui bahwa tentunya di antara percontohan jenis-jenis pohon buahan diatas, terdapat jenis-jenis pohon buahan yang bisa saja cocok untuk dataran tinggi maupun dataran rendah, demikian pula ada yang cocok untuk iklim basah maupun daerah iklim kering. Sebagai contoh : Jeruk siam (Citrus sinensis), Kecapi (Sondarikum Kocape), Manggis (Garcinia manggostana), Pisang (Musa Paradisiaca), Advokad (Percea Americana), Nenas (Ananas commosus), dan Anggur (Vitis vinivera).


PENGUSAHAAN TANAMAN HIAS DAN ARSITEKTURA PERTAMANAn
“ Habits an Custom differ, but all people have
the love of flower in common”

Tanaman hias atau “Ornamental-Crops” meliputi banyak jenis tanaman yang pada dasarnya diusahakan untuk dapat dinikmati keindahannya serta unutk memenuhi salah satu kebutuhan rohaniah. Dengan demikian yang dapat digolongkan tanaman hias, mulai dri tanaman berbunga, rumput, semak, sampai kepada jenis pohon.
Bidan ilmu yang mempelajari tentang tanaman hias disebut “FLORICULTURE”
, sehingga seseorang yang berkecimpung dan mengkhususkan dirinya dibidang ini biasanya dikenal dengan FLORICULTURIST.
Dibidang “floriculture” ini kemudian dapat dibagi lagi secara lebih khusus menjadi:
1. Pembibitan (Nursery) : Khusus mempelajari tentang cara-cara dan pembibitan dari jenis tanaman hias.
2. Arboriculture : Merupakan bidang yang mempelajari tentang hal-hal yang menyakut pemeliharaan, penanaman, dan perencanaan di dalam pengusahaan tanaman hias.
3. Landschape Architecture : Meliputi perencanaan, penanaman, pengaturan dan pemeliharaan tanaman-tanaman taman pada gedung-gedung, jalan raya, gereja mesjid, dan berbagai tempat rekreasi.
4. Cut Flower (Bunga Potong) : merupakan bidang yang mengkhususkan diri di dalam pengusahaan bunga potong seperti : Tulip, Amarilis, gladiol, Aster, Mawar, Anggrek, dan krisant
5. Bonzai : Situ bidang yang mengkhususkan pengusahaan tanaman-tanaman hias yang dikerdilkan dan ditanam di dalam pot-pot khusus.

Untuk memberikan gambaran lebih lebih luas mengenai “Cut Flower” dan “Bonsái”, dapat dikemukakan beberapa hal seperti yang dituangkan di bawah ini :
CUT FLOWER. Cut Flower atau bunga potongan merupakan statu usaha yang sudah lazim dikenal . diberbagai kota besar di Indonesia dan di banyak tempat di luar negeri, bunga potongan ini menempati fungís khusus dalam kehidupan manusia.
“Say it with flower”, demikian salah satu slogan di Amerika di mana hal inipun berlaku umum di berbagai tempat. Pada saat ulang tahun, pesta pernikahan ataupun banyak desempatan lanilla dengan perantaraan diriman bunga-bunga potongan dalam bentuk keranjang, banyak orang telah menyampaikan ucapan selamat yang satu lepada lainnya.
Perkembangan pengusahaan bunga potong pada saat Semarang ini, telah maju dengan pesatnya. Secara nyata beberapa faktor atau keadaan yang mendorong dan menunjang berkembangnya pengusahaan bunga potong ini antara lain :
Adanya perkumpulan-perkumpulan tertentu yang bergerak di bidang ini, di Indonesia FAPI (Federasi Anggrek Potong Indonesia) di Amerika dengan nama Society of American Florist, PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia)
Adanya badan-badan tertentu yang memberikan ”JASA” di bidang ini. Di Indonesia terdapat pengusaha-pengusaha yang mengkhususkan diri untuk menyediakan atau mengantarkan keranjang hias (ulang tahun, pernikahan, orang yang meninggal dunia, dan sebagainya). Di Amerika terdapat Floris Telegraph Delivery Association (FTDA) yang dapat menyampaikan pesan keranjang hias dari seseorang kepada kerabat atau kenalannya melalui telephon. Kegiatan ini bukan saja dilakukan di dalam suatu kota, tetapi antar kota maupun antar pulau.
Perkembangan teknologi sehingga dapat memperpanjang atau menunda saat kelayuan dari bunga-bunga potong (Plant food, Growth-Regulator, Fertilizer, dan lain-lain).
Perkembangan atau pertambahan jumlah penduduk.
Perkembangan dan penyebaran kota (adanya pembentukan kota-kota satelit atau real estate).
Pembentukan staff tata-kota (di Bogor : City Beautification Commitee, di Jakarta dan Ambon Dinas Tatta Kota), dan lain-lain.

BONZAI. Bonzai merupakan suatu perkataan dalam bahasa Jepang, yang kurang lebih berarti seni mengusahakan tanaman mini dengan jalan pengkerdilan secara ekstrim (Bonzai = Japanese art of growing miniature trees and schrubs by extreme dwrafing).
Biasanya dalam pengusahaan Bonzai ini, dipergunakan cara-cara, antara lain : (a) penggunaan zat pengatur tumbuh (Growth Regulator), (b) pemangkasan akar atau daun (Prunning), dan (c) pengaturan bentuk (Trainning). Zat-zat pengatur tumbuh yang digunakan dapat bermakna sebagai zat penghambat tumbuh (Growth Retardants) atau zat tumbuh (Growth Hormones). Beberapa contoh retardants antara lain : Cycocel (CCC), Allar(B-9). Beberapa contoh hormone, antara lain : NAA, Giberallic Acid (GA), Cytokinine, Kinetine, IBA, 2-4 D, dan lain-lain . zat tumbuh dalam konsentrasi tertentu merupakan retardants, malahan dapat mematikan.

Tidak ada komentar:

Selamat datang di blog kami